Dari Limbah Jadi Inovasi: Dosen UB Ciptakan Sunscreen SPF 50 dari Rambut Jagung

Dosen FTP UB kembangkan sunscreen SPF 50 dari limbah rambut jagung. Ramah lingkungan, vegan, dan siap produksi massal bersama industri kosmetik nasional.

May 8, 2026 - 21:11
 0  2
Dari Limbah Jadi Inovasi: Dosen UB Ciptakan Sunscreen SPF 50 dari Rambut Jagung
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Di tengah isu keberlanjutan dan limbah yang semakin jadi sorotan, inovasi menarik datang dari dunia akademik. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Rosalina Ariesta Laeliocattleya, berhasil mengembangkan produk sunscreen berbahan dasar yang tidak biasa: rambut jagung.

Bagian tanaman yang selama ini sering dianggap tidak bernilai ini justru diolah menjadi tabir surya dengan perlindungan SPF 50.

Lebih dari sekadar unik, inovasi ini menawarkan pendekatan baru dalam memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai tinggi.

Dirancang Khusus untuk Anak

Produk sunscreen ini tidak dibuat secara umum, melainkan diformulasikan khusus untuk anak-anak usia 4 hingga 14 tahun.

Beberapa karakteristik utamanya:

  • berbahan vegan
  • ramah lingkungan
  • menggunakan bahan alami

Pendekatan ini menunjukkan bahwa produk perawatan kulit anak bisa dikembangkan dengan bahan yang lebih aman sekaligus berkelanjutan.

Dari Petani ke Produk Kosmetik

Menariknya, proses produksi sunscreen ini tidak lepas dari peran petani lokal. Tim pengembang bekerja sama dengan petani di wilayah Pulau Jawa untuk mendapatkan bahan baku rambut jagung.

Selama ini, rambut jagung sering dianggap limbah dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Dengan inovasi ini, bagian tersebut justru menjadi sumber nilai ekonomi baru.

Pendekatan ini menciptakan rantai manfaat:

  • limbah berkurang
  • petani mendapat nilai tambah
  • industri mendapatkan bahan baku alternatif

Efisiensi dan Keberlanjutan Berjalan Bersama

Menggunakan limbah sebagai bahan utama bukan hanya soal lingkungan, tapi juga efisiensi.

Biaya produksi bisa ditekan karena bahan baku berasal dari sumber yang melimpah dan sebelumnya kurang dimanfaatkan. Di sisi lain, produk yang dihasilkan tetap memiliki nilai fungsional yang tinggi.

“kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus lebih ramah lingkungan,” ujar Rosalina Ariesta Laeliocattleya.

Siap Masuk Industri

Inovasi ini tidak berhenti di tahap penelitian. Produk sunscreen berbahan rambut jagung ini telah dipersiapkan untuk produksi massal melalui kerja sama dengan Cedefindo dan Martha Tilaar Group.

Langkah ini menjadi bukti bahwa riset kampus bisa langsung terhubung dengan dunia industri, menghasilkan produk yang siap digunakan masyarakat.

Dari sesuatu yang sering dibuang, lahir produk dengan nilai tinggi dan manfaat nyata.

Inovasi dari Universitas Brawijaya ini menunjukkan bahwa masa depan industri tidak selalu bergantung pada bahan baru, tapi juga pada cara kita melihat ulang apa yang sudah ada.

Kadang, solusi besar memang tersembunyi di hal-hal yang selama ini kita anggap sepele.**DS

Baca juga artikel lainnya :

nasi-ampok-dari-jagung-kering-menjadi-simbol-ketahanan-pangan-masyarakat-jawa-timur