Menyambut Imlek, Kue Keranjang Kembali Jadi Simbol Harapan dan Kebersamaan

Menjelang perayaan Imlek, kue keranjang kembali hadir sebagai simbol harapan, persatuan, dan akulturasi budaya Tionghoa yang telah mengakar di Indonesia.

Feb 6, 2026 - 22:49
 0  1
Menyambut Imlek, Kue Keranjang Kembali Jadi Simbol Harapan dan Kebersamaan
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Memasuki masa menjelang Tahun Baru Imlek, suasana perayaan mulai terasa di berbagai daerah di Indonesia. Persiapan dilakukan sejak jauh hari, mulai dari membersihkan rumah, berkumpul bersama keluarga, hingga menyiapkan sajian khas yang sarat makna. Salah satu yang paling identik adalah kue keranjang.

Kue bertekstur lengket dan bercita rasa manis ini hampir selalu hadir sebagai bagian dari tradisi menyambut tahun baru dalam budaya Tionghoa. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap meja makan, melainkan simbol doa dan harapan yang diwariskan lintas generasi.

Makna Filosofis di Balik Kue Keranjang

Dalam tradisi Tionghoa, kue keranjang dikenal sebagai nian gao. Kata tersebut mengandung makna harapan agar kehidupan di tahun yang akan datang menjadi lebih baik, lebih tinggi, dan lebih sejahtera dibanding tahun sebelumnya.

Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan dan kebersamaan keluarga, sementara teksturnya yang lengket dipercaya sebagai simbol hubungan yang erat dan harmonis. Karena itulah, kue keranjang kerap disiapkan sebagai bagian dari ritual dan tradisi menyambut Imlek.

Akulturasi Budaya di Indonesia

Di Indonesia, kue keranjang telah lama menjadi contoh nyata akulturasi budaya. Tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat Tionghoa, kue ini juga dikenal luas oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Di banyak daerah, kue keranjang diolah dengan cara khas Nusantara. Ada yang menggorengnya dengan balutan telur, mengukusnya bersama kelapa parut, hingga menghidangkannya sebagai bagian dari hidangan keluarga. Proses ini menjadikan kue keranjang bukan hanya simbol budaya Tionghoa, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner Indonesia.

Simbol Berbagi dan Toleransi

Menjelang Imlek, kue keranjang kerap dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan rekan kerja. Tradisi berbagi ini menjadi simbol keterbukaan, persaudaraan, dan toleransi di tengah masyarakat yang beragam.

Bagi banyak orang, menerima kue keranjang bukan hanya soal menikmati rasa manisnya, tetapi juga merasakan pesan kebersamaan dan saling menghormati antarbudaya.

Lebih dari Sekadar Sajian Musiman

Meski identik dengan perayaan Imlek, kue keranjang menyimpan nilai yang melampaui sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi pengingat akan pentingnya keluarga, harapan, dan kesinambungan hidup.

Di tengah perubahan zaman, kue keranjang tetap bertahan sebagai simbol yang relevan—menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus menyampaikan pesan sederhana tentang kebersamaan dan optimisme.**DS

Baca juga artikel lainnya :

festival-cap-go-meh-singkawang-2025-perpaduan-tradisi-spiritualitas-dan-keberagaman-budaya