Roblox Disorot Komdigi: Fitur Anak Dinilai Belum Cukup Aman
Komdigi menilai Roblox belum sepenuhnya aman untuk anak meski sudah ada fitur Roblox Kids. Celah komunikasi dengan orang asing jadi kekhawatiran utama orang tua.
Eksplora.id - Platform game populer Roblox kembali menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai bahwa Roblox belum sepenuhnya mematuhi aturan PP Tunas, meskipun telah melakukan sejumlah penyesuaian fitur secara global.
Sorotan ini muncul di tengah kekhawatiran orang tua terhadap keamanan anak-anak saat bermain game online, terutama terkait interaksi dengan pengguna lain yang tidak dikenal.
Sudah Ada Fitur Khusus Anak, Tapi Dinilai Belum Cukup
Perwakilan Roblox, Tami Bhaumik, bahkan datang langsung ke Jakarta untuk menjelaskan berbagai pembaruan yang telah dilakukan.
Roblox kini menghadirkan fitur Roblox Kids untuk anak usia 5–12 tahun, serta Roblox Select untuk usia 13–15 tahun. Selain itu, mereka juga menerapkan sistem Verified Parental Consent (VPC) bagi pengguna di bawah usia 16 tahun di Indonesia.
Langkah ini bertujuan untuk memberikan kontrol lebih kepada orang tua sekaligus membatasi akses anak terhadap konten dan interaksi yang tidak sesuai usia.
Namun menurut pemerintah, upaya tersebut belum sepenuhnya menjawab masalah utama.
Masih Ada Celah dalam Sistem Keamanan
Menteri Komdigi, Meutya Hafid, menegaskan bahwa pihaknya masih menemukan celah dalam sistem yang ada.
Celah tersebut memungkinkan anak-anak tetap bisa berkomunikasi atau melakukan chatting dengan orang yang tidak dikenal. Kondisi ini dinilai berisiko dan menjadi kekhawatiran besar bagi para orang tua di Indonesia.
Meskipun fitur pembatasan sudah diterapkan, potensi interaksi bebas dengan pengguna lain masih menjadi titik lemah yang harus segera diperbaiki.
Kekhawatiran Orang Tua Jadi Sorotan Utama
Isu ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga menyangkut keamanan anak di ruang digital. Banyak orang tua khawatir anak mereka terpapar percakapan yang tidak pantas, penipuan, atau bahkan eksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Karena itu, Komdigi menekankan bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar tambahan fitur.
Regulasi seperti PP Tunas hadir untuk memastikan bahwa platform digital benar-benar aman digunakan, terutama oleh kelompok usia rentan.
Dorongan untuk Perbaikan Lebih Ketat
Komdigi berharap Roblox segera melakukan penyesuaian lebih lanjut agar sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia. Tidak hanya dari sisi fitur, tetapi juga dari sistem pengawasan dan kontrol interaksi antar pengguna.
Langkah ini penting agar platform tidak hanya populer, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keselamatan penggunanya.
Di era digital saat ini, keamanan anak tidak bisa hanya diserahkan pada teknologi, tetapi juga membutuhkan komitmen serius dari penyedia platform.
Orang Tua Tetap Perlu Aktif Mengawasi
Di tengah berbagai upaya yang dilakukan, peran orang tua tetap menjadi kunci utama. Fitur keamanan memang membantu, tetapi pengawasan langsung tetap diperlukan agar anak tidak terpapar risiko yang tidak diinginkan.
Kasus Roblox ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi harus selalu diimbangi dengan perlindungan yang memadai, terutama bagi generasi muda.**DS
Baca juga artikel lainnya :

