Dunia Kerja Jakarta Lagi “Aneh”? Gen Z Disalahkan, Senior Tersingkir

Dunia kerja Jakarta dinilai makin tidak seimbang. Gen Z dianggap lemah, senior terkendala usia, sementara perusahaan dinilai punya ekspektasi tinggi dengan gaji rendah.

Apr 16, 2026 - 23:21
 0  6
Dunia Kerja Jakarta Lagi “Aneh”? Gen Z Disalahkan, Senior Tersingkir
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Fenomena dunia kerja di Jakarta belakangan ini terasa semakin membingungkan. Di satu sisi, banyak perusahaan mulai ragu merekrut Gen Z. Di sisi lain, para pekerja berpengalaman justru terhambat oleh batasan usia yang kerap muncul dalam lowongan kerja.

Situasi ini memunculkan pertanyaan sederhana tapi penting: sebenarnya perusahaan sedang mencari kandidat seperti apa?

Gen Z Dianggap Rentan, Tapi Tetap Dibutuhkan

Generasi muda, khususnya Gen Z, sering menjadi sorotan dalam dunia kerja. Mereka kerap dicap mudah burnout, kurang tahan tekanan, hingga dianggap tidak konsisten karena fenomena seperti ghosting saat proses rekrutmen.

Label ini membuat sebagian HR menjadi lebih berhati-hati. Namun di saat yang sama, Gen Z tetap dibutuhkan karena dianggap lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, kreatif, dan memiliki perspektif baru.

Masalahnya, persepsi negatif yang melekat sering kali lebih dominan dibanding potensi yang sebenarnya mereka miliki.

Senior Punya Pengalaman, Tapi Terbentur Usia

Di sisi lain, pekerja berpengalaman justru menghadapi tantangan berbeda. Banyak lowongan kerja yang secara terang-terangan mencantumkan syarat usia maksimal, sering kali di angka 30 atau 35 tahun.

Padahal, kelompok ini memiliki jam terbang tinggi, ketahanan mental, dan pengalaman menghadapi berbagai situasi kerja. Ironisnya, kelebihan tersebut justru tidak selalu menjadi nilai jual ketika perusahaan lebih fokus pada efisiensi biaya dan fleksibilitas.

Akibatnya, tidak sedikit tenaga kerja senior yang merasa tersisih, meskipun secara kompetensi mereka sangat mumpuni.

Ekspektasi Tinggi, Tapi Gaji Rendah

Di tengah dua kondisi tersebut, muncul persoalan lain yang cukup krusial. Banyak perusahaan dinilai memiliki ekspektasi yang tidak seimbang.

Mereka menginginkan kandidat dengan pengalaman setara senior, tetapi dengan gaji yang setara atau bahkan di bawah standar fresh graduate. Kondisi ini menciptakan ketimpangan yang membuat banyak pencari kerja merasa tidak mendapatkan kesempatan yang adil.

Alih-alih menemukan talenta terbaik, proses rekrutmen justru menjadi tidak realistis.

Diskriminasi Terselubung di Dunia Kerja

Fenomena ini juga memunculkan isu diskriminasi, terutama terkait usia dan ekspektasi kerja. Ketika usia dijadikan batas utama, sementara pengalaman tidak dihargai secara proporsional, maka peluang kerja menjadi semakin sempit bagi sebagian orang.

Begitu juga dengan Gen Z yang sering dinilai berdasarkan stereotip, bukan kemampuan individu.

Jika terus dibiarkan, kondisi ini bisa menciptakan kesenjangan yang lebih luas di dunia kerja, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Lalu, Solusinya Apa?

Dunia kerja sebenarnya sedang berada dalam fase transisi. Perusahaan perlu menyesuaikan diri dengan perubahan generasi, sementara pencari kerja juga perlu memahami tuntutan industri yang terus berkembang.

Idealnya, perusahaan tidak hanya melihat usia atau stereotip generasi, tetapi fokus pada kompetensi, kemampuan adaptasi, dan sikap kerja. Di sisi lain, pekerja—baik muda maupun senior—perlu terus meningkatkan keterampilan agar tetap relevan.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan “yang muda” atau “yang tua”, tetapi yang mampu memberikan nilai nyata.

Realita yang Perlu Dibenahi Bersama

Kondisi ini menjelaskan mengapa mencari pekerjaan di kota besar terasa semakin sulit. Bukan semata karena kurangnya lapangan kerja, tetapi juga karena adanya ketidaksesuaian antara harapan perusahaan dan realitas di lapangan.

Jika tidak ada perubahan pola pikir, baik dari sisi perusahaan maupun pencari kerja, maka “fase aneh” ini bisa berlangsung lebih lama.

Dan mungkin, pertanyaan yang paling penting bukan lagi “siapa yang salah”, tetapi “bagaimana semua pihak bisa mulai lebih realistis dan adil”.**DS

Baca juga artikel lainnya:

kiat-kiat-bersikap-profesional-dalam-dunia-kerja