Ketika Diplomasi Bertemu Mitos: Kisah Marshall Green, Soekarno, dan Nyi Roro Kidul
Kisah unik Marshall Green yang menolak ajakan Soekarno ke Pelabuhan Ratu karena mitos Nyi Roro Kidul. Antara diplomasi, budaya, dan penjelasan ilmiah.
Eksplora.id - Hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat pada era 1960-an menyimpan banyak cerita menarik. Salah satunya datang dari sosok Marshall Green, diplomat senior Amerika yang menjadi tangan kanan pemerintah AS di Jakarta.
Di tengah dinamika politik yang cukup tegang saat itu, muncul kisah unik yang justru tidak berkaitan langsung dengan urusan diplomasi. Marshall Green diketahui beberapa kali menolak ajakan Presiden Soekarno untuk berkunjung ke Pelabuhan Ratu.
Menariknya, penolakan tersebut bukan didasari alasan politik, melainkan ketakutan terhadap mitos yang berkembang di masyarakat Jawa.
Bayang-Bayang Nyi Roro Kidul
Ketakutan Marshall Green berkaitan dengan sosok Nyi Roro Kidul, figur legendaris yang diyakini sebagai penguasa Laut Selatan.
Mitos ini bukan sekadar cerita rakyat biasa. Salah satu kepercayaan yang cukup kuat adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau di kawasan pantai selatan. Warna tersebut diyakini sebagai warna kesukaan Sang Ratu, sehingga siapa pun yang memakainya berisiko “dipanggil” ke laut.
Kepercayaan ini semakin menguat setelah adanya tragedi seorang diplomat asing yang terseret ombak saat mengenakan pakaian hijau. Peristiwa tersebut memperkuat keyakinan masyarakat bahwa mitos tersebut memiliki dasar nyata.
Candaan yang Menyimpan Kekhawatiran
Dalam buku Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan, diceritakan bahwa Marshall Green bahkan sempat berseloroh kepada Soekarno mengenai kekhawatirannya.
Ia menyebut bahwa nama belakangnya, “Green”, yang berarti hijau, bisa saja menarik perhatian Nyi Roro Kidul. Dengan nada bercanda, ia mengungkapkan keinginannya untuk tetap “aman” dan bisa menikmati hidup, termasuk bermain di pantai Florida.
Di balik candaan tersebut, tersirat ketakutan yang cukup serius terhadap narasi budaya yang berkembang di Indonesia saat itu.
Kamar 308 dan Simbolisme Kekuasaan
Kekhawatiran Green semakin beralasan ketika Soekarno diketahui membangun sebuah ruang khusus di Samudra Beach Hotel, tepatnya Kamar 308.
Kamar ini didedikasikan sebagai penghormatan kepada Nyi Roro Kidul dan didesain dengan nuansa serba hijau. Bagi sebagian orang, ruang ini bukan sekadar simbol budaya, tetapi juga representasi hubungan antara kekuasaan, kepercayaan, dan legitimasi.
Antara Budaya, Sastra, dan Kekuasaan
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh narasi budaya Indonesia, bahkan mampu menyentuh cara pandang para diplomat Barat.
Tokoh seperti Basoeki Abdullah turut mencatat kisah ini, sementara Pramoedya Ananta Toer melihat mitos Nyi Roro Kidul sebagai bagian dari konstruksi kekuasaan sejak era Mataram. Dalam perspektif ini, mitos digunakan untuk memperkuat dominasi simbolik atas wilayah selatan Jawa.
Penjelasan Ilmiah di Balik Mitos
Meski kisah mistis tersebut berkembang luas, sains memberikan penjelasan yang lebih rasional. Penelitian dari Universitas Diponegoro pada tahun 2015 mengungkap bahwa bahaya utama di kawasan Pelabuhan Ratu bukanlah kekuatan gaib.
Ancaman sebenarnya adalah fenomena rip current, yaitu arus kuat yang bergerak dari pantai menuju laut lepas. Arus ini terbentuk akibat morfologi pantai yang curam dan seringkali tidak disadari oleh wisatawan.
Rip current inilah yang menjadi penyebab banyaknya kasus tenggelam di pantai selatan, termasuk yang kemudian dikaitkan dengan mitos Nyi Roro Kidul.
Di Persimpangan Mitos dan Realitas
Kisah Marshall Green dan penolakannya terhadap ajakan Soekarno memperlihatkan satu hal menarik: diplomasi tidak selalu berjalan dalam ruang rasional semata. Budaya, kepercayaan, dan mitos juga dapat memainkan peran yang tidak terduga.
Di satu sisi, cerita ini menunjukkan kuatnya pengaruh tradisi lokal. Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa di balik mitos yang berkembang, sering kali terdapat penjelasan ilmiah yang tak kalah penting untuk dipahami.**DS
Baca juga artikel lainnya :

