Friendster Kembali! Tanpa Iklan, Tanpa Algoritma, dan Fokus ke Interaksi Nyata

Friendster kembali hadir dengan konsep baru tanpa iklan dan algoritma. Aplikasi ini hanya memungkinkan pertemanan lewat sentuhan fisik antar ponsel.

May 4, 2026 - 21:53
 0  1
Friendster Kembali! Tanpa Iklan, Tanpa Algoritma, dan Fokus ke Interaksi Nyata
sumber foto : gg

Eksplora.id - Platform media sosial legendaris era 2000-an, Friendster, resmi kembali hadir dengan wajah baru. Kebangkitan ini diprakarsai oleh Mike Carson yang membeli domain serta hak merek dagangnya, lalu meluncurkan ulang aplikasinya di platform iOS.

Kembalinya Friendster langsung menarik perhatian, terutama bagi generasi yang pernah merasakan masa kejayaannya.

Konsep Baru yang Berbeda dari Media Sosial Saat Ini

Versi terbaru Friendster hadir dengan pendekatan yang cukup kontras dibandingkan platform modern.

Beberapa hal yang jadi pembeda utama:

  • tanpa iklan
  • tanpa algoritma timeline
  • tanpa penjualan data pengguna

Pendekatan ini terasa seperti “melawan arus” di tengah dominasi media sosial yang sangat bergantung pada data dan personalisasi konten.

Berteman Harus Ketemu Langsung

Fitur paling unik dari Friendster versi baru adalah cara menambah teman.

Pengguna tidak bisa sekadar klik “add friend”. Mereka harus:

  • menyentuhkan ponsel secara fisik
  • berada di lokasi yang sama
  • dan melakukan interaksi langsung

Desain ini sengaja dibuat untuk mendorong pertemuan nyata, bukan sekadar koneksi digital.

Sudah Tersedia di App Store

Saat ini, aplikasi Friendster sudah tersedia di App Store dengan ukuran yang relatif kecil, sekitar 5,9 MB.

Meski baru diluncurkan, aplikasi ini sudah menembus posisi 52 dalam kategori social networking.

Versi Android dan web juga disebut sedang dalam tahap pengembangan dan akan segera menyusul.

Nostalgia Platform yang Pernah Besar

Di masa jayanya, Friendster bukan sekadar media sosial biasa. Platform ini pernah memiliki lebih dari 115 juta pengguna terdaftar.

Mayoritas penggunanya berasal dari kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, yang saat itu menjadi salah satu pasar terbesar.

Antara Nostalgia dan Eksperimen Sosial

Kembalinya Friendster bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga eksperimen tentang bagaimana media sosial seharusnya digunakan.

Dengan menghilangkan algoritma dan membatasi koneksi hanya lewat interaksi fisik, platform ini mencoba mengembalikan esensi sosial: hubungan nyata antar manusia.

Di tengah dunia digital yang semakin kompleks, kehadiran kembali Friendster menawarkan pendekatan yang lebih sederhana—dan mungkin lebih “manusiawi”.

Pertanyaannya sekarang, apakah konsep ini bisa bertahan di era media sosial modern? Atau justru menjadi awal dari tren baru?

Kalau kamu dulu pengguna Friendster… tertarik balik lagi?.**DS

Baca juga artikel lainnya :

bukan-lagi-sekadar-hiburan-medsos-kini-jadi-senjata-politik-rakyat