Kisah Strategi Sukarno Merangkul Pekerja Seks dalam Perjuangan PNI di Bandung
Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno disebut pernah merangkul ratusan pekerja seks di Bandung untuk membantu perjuangan PNI melawan pemerintah kolonial Belanda.
Eksplora.id - Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak selalu dilakukan melalui cara-cara konvensional. Dalam menghadapi kekuatan pemerintah kolonial Belanda, para tokoh pergerakan kerap menggunakan berbagai strategi yang tidak biasa. Salah satu kisah yang sering dibahas dalam sejarah pergerakan nasional adalah langkah yang disebut dilakukan oleh Sukarno saat membangun Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bandung pada akhir 1920-an.
Dalam buku terkenal berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams, disebutkan bahwa Sukarno pernah merangkul ratusan perempuan yang bekerja di dunia prostitusi untuk membantu aktivitas pergerakan nasional.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana berbagai lapisan masyarakat—termasuk kelompok yang sering dipinggirkan—disebut ikut berperan dalam dinamika perjuangan melawan kolonialisme.
Rekrutmen Ratusan Perempuan untuk Pergerakan
Dalam buku tersebut, Cindy Adams menuliskan bahwa Sukarno pernah merekrut sekitar 670 perempuan pekerja seks di Bandung untuk menjadi bagian dari jaringan pendukung PNI.
Menurut kisah yang diceritakan dalam buku tersebut, para perempuan ini memiliki peran tertentu dalam membantu aktivitas pergerakan. Mereka memanfaatkan interaksi sosial dengan aparat kolonial Belanda untuk memperoleh informasi yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh para aktivis nasionalis.
Dalam beberapa situasi, mereka disebut menggunakan pendekatan persuasif untuk membuat aparat kolonial lengah, sehingga informasi terkait aktivitas pemerintah Belanda dapat diketahui.
Selain membantu dalam pengumpulan informasi, para perempuan tersebut juga dilaporkan memberikan dukungan finansial bagi kegiatan pergerakan nasional.
Bagi Sukarno, kelompok masyarakat yang sering dipandang sebelah mata justru memiliki potensi untuk berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan.
Kritik dari Tokoh Pergerakan
Strategi ini tidak sepenuhnya diterima oleh semua tokoh pergerakan pada masa itu. Salah satu tokoh yang disebut memberikan kritik adalah Ali Sastroamidjojo.
Ali menilai langkah merekrut pekerja seks ke dalam kegiatan politik dapat menimbulkan kesan tidak pantas dan berpotensi mencoreng citra perjuangan kemerdekaan.
Namun Sukarno tetap mempertahankan pandangannya. Ia melihat langkah tersebut dari sudut pandang pragmatis.
Menurut Sukarno, perjuangan melawan kolonialisme membutuhkan berbagai cara serta dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Ia menilai keputusan tersebut bukan semata persoalan moral, melainkan soal memanfaatkan tenaga yang dianggap efektif dalam menghadapi situasi perjuangan saat itu.
Rumah Prostitusi Sebagai Tempat Pertemuan Rahasia
Selain merangkul para perempuan tersebut, Sukarno juga disebut memanfaatkan rumah-rumah prostitusi sebagai lokasi pertemuan rahasia bagi para aktivis PNI.
Tempat seperti ini dianggap relatif aman dari pengawasan pemerintah kolonial Belanda. Aparat kolonial umumnya tidak mencurigai aktivitas politik yang berlangsung di lokasi tersebut.
Meskipun tidak disebutkan secara pasti lokasi rumah prostitusi yang dimaksud, banyak pihak menduga tempat tersebut berada di kawasan Saritem.
Kawasan Saritem memang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas prostitusi di Bandung sejak abad ke-19 pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Saritem dalam Sejarah Bandung
Selama lebih dari satu abad, Saritem menjadi bagian dari sejarah sosial kota Bandung. Kawasan ini berkembang sejak era kolonial dan dikenal luas sebagai salah satu distrik prostitusi terbesar di kota tersebut.
Namun seiring perubahan kebijakan pemerintah daerah, aktivitas prostitusi di kawasan ini akhirnya dihentikan.
Pada tahun 2007, pemerintah setempat secara resmi menutup kawasan Saritem sebagai bagian dari upaya penataan kota dan penertiban kegiatan prostitusi.
Menariknya, kawasan yang dulu dikenal sebagai pusat prostitusi tersebut kini mengalami transformasi besar. Di lokasi tersebut kini telah dibangun pesantren dan berbagai fasilitas pendidikan keagamaan, sebagai bagian dari upaya mengubah citra kawasan menjadi lingkungan yang lebih positif bagi masyarakat.
Kisah Kontroversial dalam Sejarah Pergerakan
Cerita mengenai strategi Sukarno merangkul pekerja seks dalam perjuangan PNI hingga kini masih menjadi topik diskusi di kalangan sejarawan.
Sebagian melihatnya sebagai bentuk taktik politik yang kreatif dalam menghadapi tekanan kolonial yang sangat kuat. Sementara yang lain memandangnya sebagai kisah kontroversial yang perlu dipahami dalam konteks sosial dan politik pada masa itu.
Terlepas dari perdebatan tersebut, kisah ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia melibatkan berbagai strategi serta partisipasi dari banyak kelompok masyarakat.
Sejarah pergerakan nasional tidak hanya diwarnai oleh tokoh besar dan peristiwa politik, tetapi juga oleh kontribusi orang-orang dari berbagai latar belakang yang sering kali jarang tercatat dalam narasi sejarah utama.**DS
Baca juga artikel lainnya :

