Kisah Buya Hamka dan Adiknya yang Menjadi Pendeta: Potret Nyata Toleransi dalam Satu Keluarga

Kisah Buya Hamka dan adiknya Awka menjadi contoh nyata toleransi beragama dalam satu keluarga. Meski berbeda keyakinan, keduanya tetap menjaga hubungan penuh hormat.

Mar 5, 2026 - 10:33
 0  17
Kisah Buya Hamka dan Adiknya yang Menjadi Pendeta: Potret Nyata Toleransi dalam Satu Keluarga
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Perbedaan keyakinan sering kali dipandang sebagai hal yang sensitif di tengah masyarakat. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, toleransi beragama sebenarnya dapat tumbuh secara alami ketika setiap orang menghargai kebebasan beragama yang dimiliki orang lain.

Salah satu kisah yang sering dijadikan contoh tentang toleransi tersebut datang dari keluarga ulama besar Indonesia, Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka. Sosok yang dikenal luas sebagai ulama, sastrawan, dan pemikir besar dalam sejarah Islam Indonesia ini memiliki seorang adik yang memilih jalan keyakinan berbeda.

Adik Buya Hamka bernama Abdul Wadud Karim Amrullah, yang juga dikenal dengan nama Awka. Berbeda dengan kakaknya yang menjadi tokoh penting dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, Awka justru memeluk agama Kristen dan bahkan menjadi pendeta di Amerika Serikat.

Kisah kakak beradik ini sering dikenang sebagai gambaran nyata bahwa perbedaan agama tidak selalu berujung pada konflik, melainkan dapat berjalan berdampingan dalam suasana saling menghormati.

Buya Hamka: Ulama Besar dan Tokoh Pemikir Indonesia

Buya Hamka merupakan salah satu tokoh intelektual Islam paling berpengaruh di Indonesia. Ia dikenal tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sastrawan, sejarawan, dan pemikir yang karya-karyanya masih dibaca hingga sekarang.

Namanya semakin dikenal luas setelah menulis berbagai karya penting, termasuk tafsir Al-Qur’an yang monumental, Tafsir Al-Azhar. Melalui tulisan-tulisannya, Buya Hamka banyak menyampaikan nilai-nilai moral, spiritualitas, serta pentingnya hidup dalam toleransi dan kebijaksanaan.

Sebagai seorang tokoh agama yang disegani, sikap Buya Hamka terhadap perbedaan keyakinan dalam keluarganya sering dipandang sebagai contoh kedewasaan dalam memahami kebebasan beragama.

Jalan Hidup Berbeda Sang Adik

Sementara Buya Hamka menempuh jalan sebagai ulama besar, sang adik, Awka, memilih jalan hidup yang berbeda. Ia memeluk agama Kristen dan melanjutkan kehidupannya di Amerika Serikat, bahkan menjadi seorang pendeta.

Pilihan tersebut tentu bukan hal yang mudah, terutama mengingat latar belakang keluarga mereka yang kuat dalam tradisi keislaman. Ayah mereka sendiri, Abdul Karim Amrullah, dikenal sebagai ulama besar di Sumatera Barat dan tokoh pembaharu Islam pada awal abad ke-20.

Namun perbedaan keyakinan tersebut tidak memutuskan hubungan keluarga antara Buya Hamka dan Awka. Kisah ini justru menunjukkan bahwa hubungan persaudaraan dapat tetap terjaga meski masing-masing memiliki jalan spiritual yang berbeda.

Toleransi yang Tumbuh dari Keluarga

Kisah Buya Hamka dan Awka sering dijadikan ilustrasi bahwa toleransi beragama bukan sekadar konsep yang dibahas dalam teori, melainkan dapat tumbuh dari lingkungan keluarga itu sendiri.

Sikap saling menghormati terhadap pilihan hidup orang lain merupakan kunci utama dalam menjaga hubungan yang harmonis. Dalam konteks masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, nilai-nilai tersebut menjadi sangat penting untuk dipelihara.

Kebebasan setiap orang untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya merupakan hak dasar yang dijamin oleh konstitusi. Dari prinsip tersebut, lahir sikap toleransi yang menjadi fondasi kerukunan antarumat beragama.

Pelajaran dari Sebuah Perbedaan

Kisah Buya Hamka dan Awka memberikan pelajaran bahwa perbedaan tidak selalu harus menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling memahami dan menghargai.

Di tengah dunia yang sering diwarnai konflik identitas dan perbedaan keyakinan, cerita tentang dua saudara ini mengingatkan bahwa toleransi bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa hadir dari sikap sederhana: menghormati pilihan orang lain tanpa kehilangan keyakinan diri sendiri.

Karena pada akhirnya, harmoni dalam masyarakat bukan ditentukan oleh keseragaman, melainkan oleh kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan.**DS

Baca juga artikel lainnya :

fenomena-klaim-penyembuhan-spiritual-yang-menghebohkan-publik-afrika-selatan