Filosofi Kolak: Strategi Dakwah Walisongo yang Manis dan Penuh Makna
Filosofi kolak dalam tradisi Walisongo: makna kata Khalik, simbol pisang tanduk sebagai tunduk, dan pesan spiritual Ramadan di balik hidangan manis khas Nusantara.
Eksplora.id - Di setiap bulan Ramadan, kolak hampir selalu hadir di meja berbuka puasa. Rasanya manis, kuah santannya lembut, dan aroma gula merahnya menghangatkan suasana senja. Namun di balik kesederhanaannya, kolak menyimpan kisah filosofi yang kerap dikaitkan dengan metode dakwah para Walisongo di tanah Jawa.
Konon, kolak bukan sekadar hidangan pembuka puasa. Ia dipercaya menjadi bagian dari strategi kultural Walisongo dalam menyebarkan Islam secara halus, tanpa paksaan, tanpa benturan frontal dengan tradisi lokal. Lewat makanan, pesan tauhid disisipkan. Lewat rasa manis, nilai spiritual diperkenalkan.
Benarkah demikian? Mari kita telusuri makna simboliknya.
Kolak dan Kata “Khalik”
Dalam tradisi tutur masyarakat Jawa, kolak sering dikaitkan dengan kata Arab Khaliq atau Khalik, yang berarti Sang Pencipta. Tafsir ini memang bersifat simbolik dan tidak tercatat dalam dokumen sejarah formal, tetapi narasi ini hidup kuat dalam budaya lisan.
Makna ini seolah menjadi pengingat bahwa manusia, sebelum menikmati manisnya kehidupan, harus terlebih dahulu mengingat Sang Pencipta. Ramadan sendiri adalah bulan refleksi. Kolak yang hadir saat berbuka bukan hanya mengenyangkan, tetapi mengajak untuk kembali pada asal muasal: Allah sebagai Khalik.
Pendekatan seperti ini selaras dengan metode dakwah Walisongo yang mengedepankan akulturasi budaya. Mereka tidak menghapus tradisi, melainkan mengisinya dengan makna baru yang lebih tauhidik.
Pisang Tanduk: Simbol Tunduk
Salah satu bahan utama kolak adalah pisang, khususnya pisang tanduk. Dalam filosofi Jawa-Islam, pisang tanduk sering diartikan sebagai simbol “tunduk”.
Tanduk yang melengkung ke bawah dimaknai sebagai sikap rendah hati dan kepasrahan kepada Tuhan. Dalam konteks Ramadan, ini menjadi pesan spiritual: sebelum berbuka, tundukkan ego, tundukkan hawa nafsu, tundukkan kesombongan.
Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi melatih jiwa agar lebih patuh dan berserah. Pisang tanduk dalam kolak menjadi metafora visual tentang pentingnya sikap tersebut.
Santan dan Gula Merah: Harmoni Kehidupan
Kuah kolak yang terbuat dari santan dan gula merah juga tak luput dari tafsir simbolik. Santan yang putih sering dimaknai sebagai kesucian. Warna putih melambangkan kebersihan hati setelah seharian berpuasa.
Sementara gula merah yang memberi rasa manis melambangkan kebaikan dan kasih sayang. Hidup yang dijalani dengan kesucian hati akan menghasilkan manisnya akhlak.
Ketika santan dan gula merah berpadu, tercipta harmoni rasa. Ini sejalan dengan pesan dakwah Islam di Nusantara yang menekankan keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia.
Strategi Dakwah yang Membumi
Walisongo dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam di Jawa. Mereka tidak datang dengan penolakan terhadap adat setempat, tetapi menyisipkan nilai Islam dalam kesenian, tradisi, bahkan kuliner.
Jika filosofi kolak ini benar berasal dari strategi dakwah mereka, maka ia adalah contoh betapa cerdasnya pendekatan tersebut. Masyarakat diperkenalkan pada konsep ketuhanan, kerendahan hati, dan penyucian diri tanpa merasa digurui.
Kolak menjadi media dakwah yang membumi. Tidak terasa berat. Tidak mengintimidasi. Justru diterima dengan sukacita.
Antara Fakta Sejarah dan Tradisi Lisan
Perlu dicatat, tidak ada bukti sejarah tertulis yang secara eksplisit menyebutkan bahwa kolak diciptakan langsung oleh Walisongo dengan filosofi tersebut. Narasi ini berkembang dalam tradisi lisan dan budaya masyarakat Jawa.
Namun, ketiadaan dokumen formal tidak serta-merta menghapus nilai simboliknya. Dalam budaya Nusantara, makna sering kali hidup dalam cerita, bukan dalam arsip.
Yang jelas, metode dakwah Walisongo memang dikenal fleksibel dan kultural. Maka sangat mungkin, berbagai simbol dan tafsir seperti ini muncul sebagai bagian dari proses islamisasi yang adaptif.
Kolak Hari Ini: Tradisi dan Refleksi
Kini, kolak tetap menjadi ikon Ramadan di Indonesia. Dijual di pinggir jalan, dihidangkan di masjid, atau dimasak sendiri di rumah. Banyak yang menikmatinya tanpa mengetahui filosofi di baliknya.
Namun jika kita menengok kembali makna simboliknya, kolak bukan sekadar takjil. Ia bisa menjadi pengingat akan Khalik, ajakan untuk tunduk, dan simbol penyucian diri.
Di tengah arus modernisasi, kisah seperti ini mengingatkan bahwa dakwah tidak selalu harus keras dan frontal. Kadang, ia hadir dalam semangkuk kolak hangat yang sederhana.**DS
Baca juga artikel lainnya :

