Skripsi 127 Halaman dari Layar HP, Kisah Bagus Budi Laksono Jadi Inspirasi Mahasiswa
Bagus Budi Laksono dari UIN Gus Dur Pekalongan menyelesaikan skripsi 127 halaman hanya dengan smartphone. Kisahnya menjadi inspirasi tentang perjuangan dan ketekunan.
Eksplora.id - Kisah perjuangan Bagus Budi Laksono, mahasiswa dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan atau yang dikenal sebagai UIN Gus Dur Pekalongan, menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Di tengah banyaknya keluhan tentang kurangnya fasilitas belajar atau perangkat yang tidak memadai, Bagus justru membuktikan bahwa tekad dan ketekunan bisa mengalahkan keterbatasan teknologi.
Ia berhasil menyelesaikan skripsi setebal 127 halaman—bukan dengan laptop mahal atau komputer canggih, melainkan hanya menggunakan smartphone.
Menulis Skripsi dari Layar Ponsel
Tanpa memiliki laptop, Bagus harus mengetik setiap kata skripsinya langsung dari layar ponsel. Proses ini tentu tidak mudah.
Ia harus terus melakukan zoom in dan zoom out untuk membaca dan menulis dokumen, menghadapi aplikasi yang sering lambat, hingga menggunakan keyboard ponsel yang tidak selalu responsif seperti komputer.
Meski demikian, semua keterbatasan itu tidak menghentikan langkahnya untuk menyelesaikan tugas akhir.
Anak Buruh Proyek yang Tak Ingin Membebani Orang Tua
Bagus berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan yang tidak selalu menentu.
Menyadari kondisi ekonomi keluarganya, Bagus tidak ingin menambah beban orang tua. Bahkan, ia sempat ikut bekerja dalam proyek pembangunan drainase untuk merasakan langsung bagaimana kerasnya mencari nafkah.
Pengalaman tersebut justru semakin memperkuat tekadnya untuk menyelesaikan pendidikan.
Perjuangan Menempuh Jarak 55 Kilometer
Perjalanan dari rumah menuju kampus bukan hal yang mudah bagi Bagus. Ia harus menempuh jarak sekitar 55 kilometer.
Bagi sebagian orang, biaya bensin Rp15.000 mungkin terlihat kecil. Namun bagi Bagus, jumlah itu cukup berarti sehingga ia tidak selalu bisa datang ke perpustakaan kampus untuk mencari referensi.
Keterbatasan biaya membuatnya harus mencari cara lain untuk tetap melanjutkan penelitiannya.
Menumpang WiFi Balaidesa
Salah satu cara yang dilakukan Bagus adalah memanfaatkan WiFi di balaidesa dekat rumahnya. Di tempat itulah ia sering mengerjakan tugas, mencari referensi, dan menulis skripsinya.
Ia rela menghabiskan waktu di sana demi menghemat kuota internet dan mendapatkan sinyal yang lebih stabil.
Penelitian yang ia kerjakan berjudul “Etika Bermedia Sosial”, topik yang membahas pentingnya etika dan tanggung jawab dalam penggunaan media sosial di era digital.
Sembilan Bulan Melawan Keterbatasan
Selama sembilan bulan, Bagus harus menghadapi berbagai kendala teknis—mulai dari keterbatasan perangkat, aplikasi yang tidak selalu stabil, hingga proses penulisan yang jauh lebih lambat dibanding menggunakan laptop.
Namun semua tantangan tersebut tidak membuatnya menyerah.
Hari ini, perjuangan panjang itu akhirnya terbayar. Bagus Budi Laksono berdiri tegap sebagai seorang sarjana, membawa cerita yang bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga tentang ketekunan, keberanian, dan mental baja.
Kisahnya menjadi pengingat sederhana:
gelar sarjana bukan hanya milik mereka yang memiliki fasilitas lengkap, tetapi milik mereka yang tidak berhenti berjuang meski dengan keterbatasan.**DS
Baca juga artikel lainnya :
kisah-aminatus-sadiyah-perempuan-papua-yang-mengabdi-mengajarkan-al-quran-di-lembah-baliem

