Raja yang Terbang: Akhir Perjalanan Willem-Alexander sebagai Co-Pilot KLM
Raja Willem-Alexander akhiri perannya sebagai co-pilot KLM di Boeing 737 pada 2026 dan bersiap belajar pesawat Airbus, menandai bab baru di dunia aviasi.
Eksplora.id - Pada 11 Maret 2026, sebuah momen unik terjadi di dunia penerbangan. Dari balik kokpit Boeing 737 milik KLM Royal Dutch Airlines, Willem-Alexander menuntaskan penerbangan terakhirnya sebagai co-pilot.
Momen ini sekaligus menutup perjalanan panjangnya di dunia aviasi yang telah ia jalani selama hampir tiga dekade.
Raja yang Juga Seorang Pilot
Tak banyak yang menyadari bahwa di balik perannya sebagai kepala negara Belanda, Willem-Alexander juga aktif sebagai pilot. Namun, berbeda dari anggapan umum, ia tidak benar-benar “diam-diam” menjalani peran tersebut.
Sejak 1996, ia memang rutin terbang sebagai co-pilot dengan nama samaran Alex van Buren. Bahkan sebelum resmi menjadi raja, ia terbang sekitar 2–3 kali setiap bulan untuk rute-rute Eropa melalui KLM Cityhopper.
Setelah naik takhta, frekuensi terbangnya memang berkurang, tetapi ia tetap sesekali kembali ke kokpit—menjalani dua dunia yang sangat berbeda: istana dan langit.
Mengakhiri Era Boeing 737
Keputusan untuk mengakhiri perannya sebagai co-pilot di Boeing 737 juga sejalan dengan transformasi KLM. Maskapai ini tengah beralih ke armada yang lebih modern dan berkelanjutan, seperti Airbus A321neo.
Pesawat generasi baru ini dikenal lebih efisien, lebih senyap, serta lebih ramah lingkungan—menjadi simbol arah baru industri penerbangan global.
Bukan Pensiun, Tapi Bab Baru
Menariknya, langkah ini bukan berarti Willem-Alexander benar-benar meninggalkan dunia aviasi. Justru sebaliknya, ia bersiap untuk memulai bab baru dengan mempelajari teknologi pesawat Airbus.
Hal ini menunjukkan bahwa passion tidak mengenal batas jabatan. Bahkan seorang raja pun tetap belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Cinta pada Langit
Perjalanan aviasi Willem-Alexander adalah cerminan kecintaan yang tulus terhadap dunia terbang. Dari kursi co-pilot, ia menjadi bagian dari perjalanan ribuan penumpang—bukan sebagai simbol kekuasaan, tetapi sebagai profesional di balik layar.
Di ketinggian, ia bukan hanya seorang raja, melainkan juga seorang pilot yang menjalankan tugasnya dengan dedikasi.
Kisah Willem-Alexander mengajarkan bahwa identitas seseorang tidak selalu dibatasi oleh peran utama yang ia miliki. Di balik mahkota, ada mimpi, passion, dan perjalanan pribadi yang terus hidup.
Dan bagi sang raja, langit tampaknya akan selalu menjadi rumah kedua.**DS
Baca juga artikel lainnya :
rob-jetten-dilantik-sebagai-perdana-menteri-termuda-dalam-sejarah-belanda

