Ragam Tradisi Takbiran di Nusantara: Warisan Budaya Penuh Makna

Ragam tradisi takbiran di Nusantara, dari Nujuh Likur hingga Meriam Karbit. Warisan budaya penuh makna dalam menyambut Idulfitri.

Mar 22, 2026 - 08:56
 0  4
Ragam Tradisi Takbiran di Nusantara: Warisan Budaya Penuh Makna
sumber foto : gg

Eksplora.id - Malam takbiran menjelang Hari Raya Idulfitri selalu menjadi momen istimewa bagi masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, gema takbir tidak hanya terdengar dari masjid, tetapi juga berpadu dengan tradisi lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Keunikan ini lahir dari proses panjang sejak masuknya Islam ke Nusantara sekitar abad ke-13, yang kemudian berakulturasi dengan budaya setempat. Hasilnya adalah ragam tradisi takbiran yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna sosial dan spiritual.

Nujuh Likur di Bengkulu: Cahaya Menyambut Malam Istimewa

Di Bengkulu, masyarakat mengenal tradisi Nujuh Likur yang dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadan. Kata “Nujuh Likur” sendiri berasal dari bahasa setempat yang berarti “dua puluh tujuh”.

Pada malam ini, warga menghias rumah, jalan, dan lingkungan sekitar dengan lampion atau pelita yang terbuat dari bambu dan kertas warna-warni. Lampion tersebut disusun rapi di sepanjang jalan, pagar rumah, hingga halaman masjid.

Tradisi ini bukan sekadar memperindah lingkungan. Secara simbolis, cahaya lampion melambangkan harapan akan datangnya malam Lailatul Qadar, malam yang diyakini penuh keberkahan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang kebersamaan, di mana warga bergotong royong menyiapkan dan memasang lampion bersama.

Meriam Karbit di Pontianak: Dentuman yang Menggetarkan Tradisi

Beranjak ke Pontianak, suasana takbiran terasa berbeda dengan hadirnya tradisi Meriam Karbit. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan menjadi ikon budaya masyarakat setempat.

Meriam dibuat dari batang kayu besar yang dilubangi, lalu diisi dengan karbit (kalsium karbida) yang bereaksi dengan air untuk menghasilkan gas. Gas tersebut kemudian disulut hingga menghasilkan dentuman keras yang menggema di sepanjang Sungai Kapuas.

Biasanya, meriam-meriam ini disusun berjajar di tepian sungai dan dinyalakan secara bergantian oleh kelompok masyarakat. Dentuman yang dihasilkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol semangat, kebersamaan, dan kegembiraan dalam menyambut Idulfitri.

Bahkan, di beberapa tempat, tradisi ini dijadikan ajang perlombaan antar kelompok, menambah semarak suasana malam takbiran.

Tumbilotohe di Gorontalo: Lautan Cahaya Penuh Makna

Di Gorontalo, tradisi Tumbilotohe menjadi salah satu perayaan yang paling memukau. Tradisi ini biasanya dilakukan pada tiga malam terakhir Ramadan.

Ribuan lampu minyak atau pelita dipasang di halaman rumah, jalan, jembatan, hingga area masjid. Lampu-lampu tersebut disusun dengan pola tertentu, bahkan sering membentuk ornamen artistik yang indah.

Secara filosofis, Tumbilotohe melambangkan penerangan jalan bagi umat Muslim dalam menyambut hari kemenangan. Dahulu, lampu-lampu ini juga berfungsi sebagai penerang jalan bagi masyarakat yang menuju masjid untuk beribadah di malam hari.

Kini, selain sebagai tradisi spiritual, Tumbilotohe juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menarik perhatian banyak orang.

Nganteuran di Jawa Barat: Menguatkan Silaturahmi

Di wilayah Jawa Barat, masyarakat memiliki tradisi Nganteuran, yang dilakukan menjelang Hari Raya.

Dalam tradisi ini, masyarakat saling mengantar makanan ke rumah kerabat, tetangga, dan orang-orang terdekat. Makanan yang dibawa biasanya berupa hidangan khas Lebaran seperti opor, ketupat, atau kue tradisional.

Nganteuran bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga bentuk penghormatan, kepedulian, dan upaya mempererat hubungan sosial. Tradisi ini menjadi simbol bahwa kebahagiaan Idulfitri tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga dibagikan kepada orang lain.

Harmoni antara Agama dan Budaya

Keberagaman tradisi takbiran di Nusantara menunjukkan bahwa Islam di Indonesia berkembang dengan pendekatan yang harmonis. Nilai-nilai keagamaan tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan budaya lokal yang memperkaya cara masyarakat mengekspresikan keimanan.

Meskipun setiap daerah memiliki cara yang berbeda, esensi takbiran tetap sama: mengagungkan kebesaran Allah dan mensyukuri berakhirnya bulan Ramadan.

Dari cahaya lampion di Bengkulu, dentuman meriam di Pontianak, hingga lautan pelita di Gorontalo dan tradisi berbagi di Jawa Barat, semuanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai.

Tradisi takbiran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang kebersamaan, harapan, dan identitas. Menjaga tradisi ini berarti merawat warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai sosial yang telah hidup dalam masyarakat sejak lama.

Baca juga artikel lainnya :

menkeu-tak-gelar-open-house-lebaran-2026-pilih-sederhana-dan-dorong-efisiensi-anggaran