“Kami Sudah Capek Miskin”: Momen Haru Bupati Nias Utara di Forum Nasional

Momen haru Bupati Nias Utara Amizaro Waruwu yang bersujud saat menyampaikan kondisi daerah tertinggal menjadi sorotan ketimpangan pembangunan di Indonesia.

Apr 18, 2026 - 14:57
 0  8
“Kami Sudah Capek Miskin”: Momen Haru Bupati Nias Utara di Forum Nasional
sumber foto : gg

Eksplora.id - Suasana Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Jakarta, mendadak hening. Di tengah forum resmi yang dihadiri para pejabat tinggi negara, Amizaro Waruwu menyampaikan sesuatu yang jauh melampaui sekadar laporan.

Ia menyampaikan jeritan daerahnya.

Sujud di Ujung Sambutan

Momen paling menyentuh terjadi di penghujung sambutannya. Setelah memaparkan kondisi wilayahnya, Amizaro terlihat tak mampu lagi menahan beban emosinya. Ia bahkan bersujud di hadapan forum, sebuah gestur yang menggambarkan kelelahan sekaligus harapan yang dalam.

Di hadapan para pejabat seperti Yandri Susanto, Ahmad Riza Patria, dan Bobby Nasution, ia menyampaikan kalimat yang mengguncang:

“Pak Menteri, Pak Gubernur, dan Bapak-Ibu semuanya, kami ini sudah capek miskin. Capek miskin kami.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sarat makna—sebuah suara dari daerah yang selama ini tertinggal.

Ketimpangan yang Masih Nyata

Dalam paparannya, Amizaro menjelaskan bahwa kondisi Kabupaten Nias Utara masih tertinggal, bahkan tidak jauh berbeda dengan beberapa wilayah di Tanah Papua.

Ia menyoroti ironi besar setelah hampir 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Di saat daerah lain berbicara tentang kemajuan teknologi, pembangunan modern, hingga kecerdasan buatan, Nias Utara masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

“Kami masih berbicara tentang listrik, rumah tidak layak huni, dan internet,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi tamparan halus bagi realitas pembangunan yang belum merata.

Dua Wajah Indonesia

Amizaro juga menggambarkan kontras yang tajam antara daerah maju dan tertinggal. Ia menyebut, jika kepala daerah di Pulau Jawa berbicara tentang pengembangan Artificial Intelligence, pusat perbelanjaan, dan jalan tol, maka daerahnya masih berkutat pada persoalan paling mendasar.

Perbedaan ini bukan hanya soal angka pembangunan, tetapi soal keadilan.

Indonesia, dalam forum itu, seolah memiliki dua wajah: satu yang melaju cepat, dan satu lagi yang masih tertinggal jauh di belakang.

Suara dari Pinggiran

Apa yang disampaikan Amizaro bukan sekadar keluhan pribadi. Itu adalah representasi dari banyak daerah tertinggal yang masih berjuang untuk mendapatkan akses dasar yang seharusnya sudah merata.

Gestur sujudnya menjadi simbol—bahwa pembangunan bukan hanya soal program, tetapi tentang mendengar dan merasakan langsung kondisi masyarakat.

Momen di Kemendes PDT itu menjadi pengingat bahwa pembangunan nasional belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah. Ketika seorang kepala daerah harus bersujud untuk menyampaikan kondisi rakyatnya, maka ada sesuatu yang perlu direnungkan bersama.

Bahwa kemajuan tidak boleh hanya dinikmati sebagian wilayah.

Dan bahwa suara dari pinggiran, sekecil apa pun, tetap harus didengar.**DS

Baca juga artikel lainnya :

wakil-bupati-subang-dampingi-menteri-koperasi-ri-lepas-ekspor-96-ton-kopi-ke-aljazair